Sungai Penuh – Seorang warga Kabupaten Kerinci dilaporkan terlantar dan belum mendapatkan kamar rawat inap setelah lebih dari 24 jam berada di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Mayjen A. Thalib Sungai Penuh. Kasus ini memicu sorotan tajam dari LSM Brajo Sakti terkait buruknya sinkronisasi data ketersediaan kamar di rumah sakit daerah tersebut.
Pasien berinisial SZ (21), warga Kecamatan Tanah Cogok, masuk ke IGD pada Jumat pagi, 12 Juni 2026, sekitar pukul 07.30 WIB. Hingga Jumat sore, yang bersangkutan belum juga mendapatkan ruang rawat inap meskipun sangat membutuhkan penanganan medis lanjutan. Pihak keluarga menyampaikan bahwa kondisi ini membuat pasien harus menunggu dalam ketidakpastian di ruang IGD yang seharusnya hanya bersifat sementara.
Menanggapi hal tersebut, LSM Brajo Sakti segera melakukan advokasi dengan berkoordinasi langsung kepada pihak rumah sakit. Hasil penelusuran menunjukkan adanya ketidaksesuaian fatal antara informasi ketersediaan kamar rawat inap yang tercantum di situs resmi dengan kondisi riil di lapangan.
“Website menunjukkan ketersediaan, tapi faktanya kamar tidak tersedia. Ini yang menjadi persoalan serius karena menyangkut keselamatan pasien,” kata Santa, advokator dari LSM Brajo Sakti yang menangani kasus ini.
Kasubbag Humas RSUD Mayjen A. Thalib, Neli, saat dikonfirmasi menyatakan bahwa pihak rumah sakit terus mengusahakan kamar karena kondisi ruangan sedang penuh. Namun, setelah melalui proses yang panjang dan melelahkan, pasien baru berhasil mendapatkan kamar pada pukul 16.00 WIB.
Keterlambatan ini memicu kekecewaan mendalam dari pihak keluarga pasien. Mereka merasa sangat kesal karena harus menunggu terlantar dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore hanya untuk mendapatkan kepastian pelayanan.
Kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa persoalan klasik layanan kesehatan—mulai dari antrean panjang hingga minimnya transparansi informasi—masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi sistem kesehatan di Kota Sungai Penuh.(Tim)
Facebook comments