Jambi - Penjabat Sementara (Pjs) Gubernur Jambi Ir.Restuardy (Ardy) Daud,M.Sc mengadakan rapat bersama Penjabat Sekretaris Daerah (Pj.Sekda) H.Sudirman, Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Kesehatan Provinsi Jambi Reflizal, Asisten I Drs.H.Apani Saharuddin, Direktur Utama RSUD Raden Mattaher dr.Mhd.Fery Kusnadi,Sp.OG beserta jajaran dalam upaya peningkatan testing, tracing, dan treatment (pengujian, penelusuran, dan pengobatan) termasuk penambahan mesin uji swab di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) untuk penanganan Covid 19.
“Penanganan Covid-19 memiliki tantangan yang sangat luar biasa, selain menangani kesehatan kita juga harus memikirkan dampak lain seperti dampak ekonomi, sosial," kata (Pjs) Gubernur Jambi Ir.Restuardy (Ardy) Daud,M.Sc, Kamis (15/10).
Ia menambahkan pekerjaan penanganan Covid-19 ini bukanlah kerja yang normal tetapi kerja di luar batas normal. Kita bekerja dalam masa kritis, masa luar biasa dan dituntut ekstra.
Disamping itu dia menjelaskan perlu juga pembahasan untuk peralatan mendukung, insentif tenaga kesehatan, ketersediaan tenaga kerja, dan juga bagaimana melindungi diri terutama yang terkait dengan tenaga kesehatan kita.
Ardy Daud mengapresiasi semua pihak yang telah bekerja keras dalam menangani Covid-19, terutama tenaga kesehatan.
“Kita mendapatkan tantangan yang cukup besar tentang bagaimana cara menangani pandemi ini dan menjadi refleksi. Manakala kita bisa memperbaiki kinerja dan meningkatkannya dengan apa yang kita punya," ujarnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kadis Kesehatan Provinsi Jambi Reflizal mengatakan ada beberapa kemajuan yang telah dilakukan Dinkes dalam menangani Covid-19, yakni spesimen uji swab dikirim ke BPOM dengan hasil keluar yang cukup cepat, pagi diantar malam Dinkes sudah menerima hasil.
“Uji swab meningkat, kemampuan tracing (penelusuran) membaik dalam dua bulan terakhir, dan Dinkes juga tetap mempersiapkan SDM, logistik dan sapras lain dalam percepatan penanganan Covid-19 termasuk pelatihan untuk laporan harian online, serta jejaring kontak yang dibantu oleh Perhimpunan Ahli Epidemologi Indonesia,” terang Reflizal. (Adv)
Facebook comments